Rabu, 16 Maret 2016

KEPITING


Pada suatu ketika di lingkungan pertapaan, seorang pertapa muda sedang berjalan-jalan pagi. Ketika ia melewati sebuah sungai, ia melihat seekor kepiting tengah berjuang melawan arus. Kepiting tersebut timbul tenggelam berjuang untuk menyeberangi sungai kelihatannya.


Tergerak oleh belas kasihan, petapa muda itu menjulurkan jarinya untuk menolong si kepiting. Bukannya malah naik, si kepiting malah menjepit tangan si petapa muda. Petapa itu kesakitan, namun ia membiarkan si kepiting melakukanya sembari membawanya ke pinggir sungai. Ketika sudah sampai di pinggir sungai, ia melepaskan jepitan kepiting itu dari tangannya dan membiarkannya pergi.


Namun celakanya, sepanjang pagi itu banyak kepiting berjuang melewati sungai. Tanpa pikir panjang si petapa melakukan hal yang sama dengan kepiting yang lain. Maka tak sampai satu jam kemudian, darah mulai mengucur dari jari-jari si petapa muda. Selang beberapa menit kemudian, seorang petapa tua juga melewati sungai tersebut.


Rupa-rupanya ia mengamat-amati si petapa muda dari jauh. Lalu ia berjalan mendekati petapa muda itu sambil bertanya, “Hai anak muda, apa yang sedang engkau lakukan?”


“Saya sedang menolong kepiting-kepiting ini untuk menyebrangi sungai,” jawab si petapa muda polos.


“Kau biarkan jarimu berdarah-darah demi itu?” tanya si petapa tua.


“Ya, bapak. Memangnya ada yang salah dengan berkorban demi menolong yang lain?”


Si petapa tua mengambil ranting yang cukup kuat di dekat situ. Ia menyodokkan ranting itu ke dekat kepiting lain yang juga sedang berusaha. Kepiting itu menjepit ranting itu kuat-kuat, lalu si petapa tua memindahkannya ke darat.


“Lihatlah anak muda. Masih ada banyak cara menolong orang lain tanpa membuat dirimu sendiri menderita. Jangan sekali-kali engkau membiarkan yang butuh pertolongan, tetapi belajarlah untuk menolong dengan cara yang tepat tanpa mengorbankan dirimu sepenuhnya dalam hal itu.”

Si petapa muda memandang seniornya dengan penuh rasa hormat dan menjawab, “Terima kasih banyak guru. Saya masih merasa, sering berkorban diri seutuhnya dalam menolong orang adalah hal yang mulia, tapi alangkah baiknya kalau sayapun juga ikut berjuang supaya saya tidak dikorbankan bersama penderitaan mereka.”



*****



Sumber Inspirasi: Kisah Penuh Hikmah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About Us

Recent